MAKALAH
PERKEMBANGAN EMOSI
PESERTA DIDIK
Memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen pengampu :
Dra. Oerip
Poedjiati, M. M.
Nama Kelompok :
1. Miftahul Jannah (11.421.037)
2. Girang Suryo P (11.421.038)
3. Khoirotun Nisa’i (11.421.039)
4. Kukuh Wiradani (11.421.040)
5. Silvia Alifatul F. (11.421.041)
6. Eka Dewi Suwinta (11.421.xxx)
IKIP
PGRI MADIUN
FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
FISIKA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perasaaan dan emosi adalah
bagian dari keseluruhan aspek psikis manusia. Sebagai fungsi psikis perasaan
dan emosi mempunyai pengaruh terhadap fungsi psikis yang lain seperti,
pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan kemauan. Emosi adalah perasaan intens
yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap
seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai
sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Emosi dibagi menjadi dua
yaitu, emosi negatif dan emosi positif. Emosi tersebut akan terlihat dari
pengalaman, pengamatan, dan tanggapannya.
Emosi manusia mengalami perkembangan
yang dimulai sejak lahir hingga dewasa. Dengan bertambahnya usia anak, reaksi
emosinya pun akan semakin beragam. Tak sulit bagi orang tua untuk mengenali
berbagai reaksi emosi anak ini. Tapi, yang paling penting adalah menyikapi
emosi anak dengan tepat.
pada makalah ini akan dibahas mengenai
pengertian emosi dan fase-fase emosi pada peserta didik mulai dari usia pra
sekolah sampai pada usia remaja.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah pengertian
dari emosi dan klasifikasinya ?
2. Apa saja faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan emosi peserta didik ?
3. Bagaimana fase-fase
perkembangan emosi peserta didik ?
C.
Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari emosi dan
klasifikasinya
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan emosi peserta didik
3.
Mengetahui
fase-fase perkembangan emosi peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Emosi
dan Klasifikasinya
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau
sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan
ketika merasa
senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap
sesuatu. Kata "emosi" diturunkan dari kata bahasa
Perancis, émotion, dari émouvoir,
'kegembiraan' dari bahasa Latin emovere,
dari e- (varian eks-) 'luar' dan movere 'bergerak'. Kebanyakan ahli
yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu daripada suasana hati. Sebagai contoh,
bila seseorang bersikap kasar, manusia akan merasa marah. Perasaan intens kemarahan tersebut mungkin datang dan pergi dengan
cukup cepat tetapi ketika sedang dalam suasana hati yang buruk, seseorang dapat
merasa tidak enak untuk beberapa jam.
Terdapat aspek emosi yang fundamental yang
harus dipertimbangkan, diantaranya:
a.
Biologis emosi
Semua emosi berasal dari sistem limbik otak yang kira-kira berukuran sebesar
sebuah kacang walnut dan terletak di batang otak. Orang-orang cenderung merasa
bahagia ketika sistem limbik mereka secara relatif tidak aktif. Sistem limbik
orang tidaklah sama. Sistem limbik yang lebih aktif terdapat pada orang-orang
yang depresi,
khususnya ketika mereka memperoleh informasi negatif.
b.
Intensitas
Setiap orang memberikan respon yang berbeda-beda terhadap rangsangan pemicu emosi yang sama. Dalam
sejumlah kasus, kepribadian
menjadi penyebab perbedaan tersebut.<emosi/> Pada saat lain, perbedaan
tersebut timbul sebagai hasil dari persyaratan-persyaratan pekerjaan.
c.
Frekuensi dan durasi
Suksesnya pemenuhan tuntutan emosional
seorang karyawan dari
suatu pekerjaan tidak hanya bergantung pada emosi-emosi yang harus ditampilkan
dan intensitasnya tetapi juga pada seberapa sering dan lamanya mereka berusaha
menampilkannya.
d.
Rasionalitas dan emosi
Emosi adalah penting terhadap pemikiran
rasional karena emosi memberikan informasi penting mengenai pemahaman terhadap dunia sekitar. Dalam suatu organisasi, kunci pengambilan keputusan
yang baik adalah menerapkan pemikiran dan perasaan dalam suatu keputusan.
e.
Fungsi emosi
Dalam ”The Expression of the Emotions in Man
and Animals”, Charles Darwin
menyatakan bahwa emosi berkembang seiring waktu untuk membantu manusia
memecahkan masalah. Emosi sangat berguna karena ‘memotivasi’ orang untuk terlibat dalam tindakan penting agar data bertahan
hidup –tindakan-tindakan seperti mengumpulkan makanan, mencari tempat
berlindung, memilih pasangan, menjaga diri terhadap pemangsa, dan memprediksi
perilaku. Emosi sangat berpengaruh terhadap tingkah laku manusia.
Salah satu cara mengklasifikasikan emosi adalah berdasarkan
apakah emosi tersebut positif atau negatif. Emosi-emosi positif -seperti rasa
gembira dan rasa syukur- mengekspresikan sebuah evaluasi atau perasaan
menguntungkan, sedangkan emosi-emosi negatif -seperti rasa marah atau rasa
bersalah- mengekspresikan sebaliknya. Emosi tidak dapat netral, karena menjadi
netral berarti menjadi nonemosional.
B.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Perkembangan Emosi Peserta Didik
Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa
perkembangan emosi mereka bergantung kepada faktor kematangan dan faktor
belajar (Hurlock, 2002: 154). Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal
kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul
dikemudian hari, dengan berfungsinya sistem endokrin. Kematangan dan belajar
terjalin erat satu sama lainnya dalam mempengaruhi perkembangan emosi.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar
memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional.
Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan
orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh
rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada
“orang sasaran” (Hurlock, 2002:213).
Metode
belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
1. Belajar dengan coba-coba.
2. Belajar dengan cara meniru.
3. Belajar dengan cara mempersamakan diri
(learning by identification).
4. Belajar melalui pengkondisian.
5. Belajar dibawah bimbingan dan
pengawasan, terbatas pada aspek reaksi (Sunarto, 2002)
Beberapa ahli psikologi menyebutkan adanya beberapa faktor
yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi seseorang (Astuti, 2005),
yaitu:
1. Pola Asuh Orangtua
Pola asuh orang tua terhadap anak bervariasi. Ada yang pola
asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja, sehingga
ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga
dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh dari orang tua seperti ini dapat
berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi peserta didik.
Keluarga merupakan lembaga pertama dan
utama dalam kehidupan anak, tempat belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk
sosial, karena keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama tempat anak
dapat berinteraksi. Dari
pengalamannya berinteraksi di dalam keluarga ini akan menentukan pula pola
perilaku anak tehadap orang lain dalam lingkungannya. Dalam pembentukan
kepribadian seorang anak, keluarga mempunyai pengaruh yang besar. Banyak faktor
dalam keluarga yang ikut berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang
anak, salah satu faktor tersebut adalah pola asuh orangtua (Tarmudji, 2001).
Pengasuhan ini berarti orangtua mendidik, membimbing, dan
mendisiplinkan serta melindungi anak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam
masyarakat (Tarmudji, 2001). Dimana suatu tugas tersebut berkaitan dengan
mengarahkan anak menjadi mandiri di masa dewasanya baik secara fisik maupun
psikologis (Andayani dan Koentjoro, 2004).
Menurut Goleman (2002) cara orang tua memperlakukan
anak-anaknya akan memberikan akibat yang mendalam dan permanen pada kehidupan
anak. Goleman (2002) juga menemukan bahwa pasangan yang secara emosional lebih
terampil merupakan pasangan yang paling berhasil dalam membantu anak-anak
mereka mengalami perubahan emosi. Pendidikan emosi ini dimulai pada saat-saat
paling awal dalam rentang kehidupan manusia, yaitu pada masa bayi. Idealnya
orangtua akan mengambil bagian dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua
orangtua anak akan belajar mandiri melalui proses belajar sosial dengan
modelling (Andayani dan Koentjoro, 2004).
2. Pengalaman Traumatik
Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi
perkembangan emosi seseorang, dampaknya jejak rasa takut dan sikap terlalu
waspada yang ditimbulkan dapat berlangsung seumur hidup. Kejadian-kejadian
traumatis tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan
di luar keluarga (Astuti, 2005).
3. Temperamen
Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang
mencirikan kehidupan emosional kita. Hingga tahap tertentu masing- masing
individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, temperamen merupakan bawaan
sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat
dalam rentang kehidupan manusia (Astuti, 2005).
Rasa takut dan marah dapat menyebabkan seorang gemetar.
Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya
aliran darah, sistem pencernaan mungkin berubah selama permunculan emosi.
Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu
untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak enak menghambat pencernaan. Gangguan
emosi dapat menjadi penyebab kesulitan berbicara. Hambatan-hambatan dalam
berbicara tertentu telah ditemukan bahwa tidak disebabkan oleh kelainan dalam
organ berbicara. Ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan
seseorang menjadi gagap.
Sikap takut, malu-malu merupakan akibat dari ketegangan
emosi dan dapat muncul dengan hadirnya individu tertentu. Karena reaksi kita
yang berbeda-beda terhadap setiap orang yang kita jumpai, maka jika kita
merespon dengan cara yang sangat khusus terhadap hadirnya individu tertentu
akan merangsang timbulnya emosi tertentu.
Suasana emosional yang penuh tekanan di dalam keluarga berdampak negatif terhadap perkembangan remaja. Sebaliknya suasana penuh kasih sayang, ramah, dan bersahabat amat mendukung pertumbuhan remaja menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Dengan demikian dialog antara orang tua dengan remaja sering terjadi. Dalam dialog tersebut mereka akan mengungkapkan keresahan, tekanan batin, cita-cita, keinginan, dan sebagainya. Akhirnya jiwa remaja akan makin tenang. Jika demikian maka remaja akan mudah diajak untuk bekerja sama dalam rangka mengajukan dirinya dibidang pendidikan dan karir (Willis,2005).
Suasana emosional yang penuh tekanan di dalam keluarga berdampak negatif terhadap perkembangan remaja. Sebaliknya suasana penuh kasih sayang, ramah, dan bersahabat amat mendukung pertumbuhan remaja menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Dengan demikian dialog antara orang tua dengan remaja sering terjadi. Dalam dialog tersebut mereka akan mengungkapkan keresahan, tekanan batin, cita-cita, keinginan, dan sebagainya. Akhirnya jiwa remaja akan makin tenang. Jika demikian maka remaja akan mudah diajak untuk bekerja sama dalam rangka mengajukan dirinya dibidang pendidikan dan karir (Willis,2005).
4. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan
dengan adanya perbedaan hormonal antara laki- laki dan perempuan, peran jenis
maupun tuntutan sosial yang berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan
karakteristik emosi diantara keduanya (Astuti, 2005).
5. Usia
Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang
sejalan dengan pertambahan usianya. Hal ini dikarenakan kematangan emosi
dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang.
Ketika usia semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut berkurang, sehingga
mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi (Moloney, dalam
Puspitasari Nuryoto 2001). Namun demikian, dalam hal ini tidak menutup
kemungkinan seseorang yang sudah tua, kondisi emosinya masih seperti orang muda
yang cenderung meledak- ledak. Hal tersebut dapat diakibatkan karena adanya
kelainan- kelainan di dalam tubuhnya, khususnya kelainan anggota fisik.
Kelainan yang tersebut dapat terjadi akibat dari pengaruh makanan yang banyak
merangsang terbentuknya kadar hormonal.
6. Perubahan jasmani
Perubahan jasmani ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang
sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan petumbuhan ini hanya
terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh
menjadi tidak seimbang. Ketidak seimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat
yang tidak terduga pada perkembangan emosi peserta didik. Tidak setiap peserta
didik dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti ini, lebih-lebih perubahan
tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat.
Hormone-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat
kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh peserta didik
dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.
7. Perubahan Interaksi dengan Teman
Sebaya
Peserta didik sering kali membangun interaksi sesame teman
sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama
dengan membentuk emacam geng. Interaksi antar anggotanya dalam suatu kelompok
geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang
sangat tinggi. Fakor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah
hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Gejala ini sebenarnya sehat bagi
peserta didik, tetapi tidak jarang menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada
mereka jika tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih
dewasa.
8. Perubahan Pandangan Luar
Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat
menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri peserta didik, yaitu:
a. Sikap dunia luar terhadap peserta
didik sering tidak konsisten
b. Dunia luar atau masyarakat masih
menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk peserta didik laki-laki dan
perempuan.
c. Seringkali kekosongan peserta didik
dimamfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab.
9. Perubahan Interaksi dengan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang sangat diidealkan
oleh pererta didik. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam
kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh
otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak jarang anak-anak
lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada
orang tuanya. Posisi guru disini amat strategis apabila digunakan untuk pengembangan
emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif..
C.
Fase-Fase Perkembangan Emosi Peserta
Didik
Fase-fase perkembangan emosi berjalan konstan, kecuali pada
masa remaja awal (13-14 tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun) pada masa remaja
awal ditandai oleh rasa optimisme dan keceriaan dalam hidupnya, diselingi rasa
bingung menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya. Pada masa
remaja tengah rasa senang datang silih berganti dengan rasa duka, kegembiraan
berganti dengan kesedihan, rasa akrab bertukar dengan kerenggangan dan
permusuhan. Gejolak ini berakhir pada masa remaja akhir (18– 21 tahun).
Pada masa remaja tengah anak terombang-ambing dalam sikap mendua (ambivalensi) maka pada masa remaja akhir anak telah memiliki pendirian, sikap yang relatif mapan. Mencapai kematangan emosial merupakan tugas yang sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan-lingkungan keluarga dan teman sebaya. Apabila lingkungan tersebut kondusif maka akan cenderung dapat mencapai kematangan emosional yang baik, seperti adolesensi emosi (cinta, kasih, simpati, senang menolong orang lain, hormat dan menghargai orang lain, ramah) mengendalikan emosi (tidak mudah tersinggung, tidak agresif, optimis dan dapat menghadapi situasi frustasi secara wajar). Tapi sebaliknya, jika seorang remaja kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau pengakuan dari teman sebaya, maka cenderung mengalami perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional, sehingga remaja bisa berealisi agresif (melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, senang mengganggu) dan melarikan diri dari kenyataan (melamun, pendiam, senang menyendiri, meminum miras dan narkoba).
Pada masa remaja tengah anak terombang-ambing dalam sikap mendua (ambivalensi) maka pada masa remaja akhir anak telah memiliki pendirian, sikap yang relatif mapan. Mencapai kematangan emosial merupakan tugas yang sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan-lingkungan keluarga dan teman sebaya. Apabila lingkungan tersebut kondusif maka akan cenderung dapat mencapai kematangan emosional yang baik, seperti adolesensi emosi (cinta, kasih, simpati, senang menolong orang lain, hormat dan menghargai orang lain, ramah) mengendalikan emosi (tidak mudah tersinggung, tidak agresif, optimis dan dapat menghadapi situasi frustasi secara wajar). Tapi sebaliknya, jika seorang remaja kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau pengakuan dari teman sebaya, maka cenderung mengalami perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional, sehingga remaja bisa berealisi agresif (melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, senang mengganggu) dan melarikan diri dari kenyataan (melamun, pendiam, senang menyendiri, meminum miras dan narkoba).
1.
Perkembangan Emosi Peserta Didik Usia Pra sekolah
Perkembangan
emosional anak usia pra sekolah dapat digambarkan bahwa seiring perkembangan
fisik juga diikuti oleh perkembangan emosional dimana respon emosional makin
banyak berkaitan dengan situasi sosial (orang dilingkungan) dan rangsangan yang
simbolis atau abstrak. Pada masa ini anak kelihatan berperilaku agresif,
memberontak, menentang keinginan orang lain, khususnya orang tua. Pada usia ini
sikap menentang bisa berubah kembali bila orang tua, pendidik menunjukkkan
sikap konsisten dalam memperlihatkan kewibawaan dan peraturan yang telah
ditetapkan. Setelah berhasil secara tegas mempertahankan kewibawaan dengan
berpegang teguh pada patokan perilaku tertentu, pada anak akan terjadi
internalisasi nilai dengan tolak ukur orang tua dan selanjutnya bisa terjadi
proses identifikasi. Pada anak akan terlihat ada kemiripan dengan orang tua
dalam hal tertentu.
Peran jenis juga
diperoleh melalui proses identifikasi. Proses identifikasi adalah proses
mengambil sifat, sikap, pandangan orang laindan dijadikan sifat, sikap,
padangan sendiri. Sifat mau menunjukkan kehendaknya dan diturutinya
keinginannya bisa terpupuk sehingga pada akhirnya anak sulit dikendalikan.
Dengan sikap konsisten orang tua menolak keinginan atau permintaan anak yang
tidak baik untuk dipenuhi, melarang perbuatan-perbuatan yang tidak boleh
dilakukan dan sebaliknya menunjukkan sikap menyenangi perilaku yang baik.
Perilaku ngadat, ngambek, mogok, merupakan permulaan dari munculnya kesadaran
diri masa balita. Masa balita perlu diperhatikan agar tidak menumbuhkan sikap
emosi, marah maupun sikap masa bodoh pada orang tua. Perilaku anak balita bisa
menyebabkan sikap menolak terhadap anak pada orang tua hal mana bisa berakibat
menghambat perkembangan kepribadian anak. Pada masa ini orang tua, pendidik
harus tetap berusaha melihat tujuan pendidikan yakni mengembangkan kepribadian
anak dan membentuk perilakuknya sesuai dengan gambaran yang dicita-citakannya.
Pada masa ini, anak juga belajar menyatakan diri dan emosinya, mulai timbul
rasa malu, takut, sedih, bermusuhan, bersalah bahkan iri dan cemburu.
Bermacam-macam rasa takut terbentuk berkaitan dengan situasi, bunyi-bunyian,
binatang, setan dan kemungkinan kehilangan rasa aman. Takut yang tidak wajar
bisa diatasi dengan sikap orang tua dan pendidik yang memberi rasa aman dan
terlindung.
Secara garis besar perilaku dan
perkembangan emosional anak adalah sebagai berikut :
1.
Usia Pra Sekolah (3-5 tahun) merupakan usia yang
temperamental bagi anak. Rasa Takut muncul dari apa saja yang mengancam ataupun
dari hal-hal yang tidak biasa. Dengan meningkatnya kesadaran diri seorang anak,
anak mudah untuk takut. Rasa Takut muncul pada kebanyakan anak usia empat atau
lima tahun dari cerita-cerita tentang hantu, tempat-tempat yang berbahaya dan
seram, penculikan, kecelakaan dan kematian. Televisi juga memberi andil pada
peningkatan rasa takut pada usia ini.
b. Marah
Marah seringkali terjadi pada usia kanak-kanak
pertama. Setipa hal yang mengurangi rasa senang anak, konflik dan frustasi
merupakan sumber rasa marah anak.
c. Emosi, Iri
dan Cemburu
Emosi, iri dan cemburu juga sering muncul pada usia
tiga-empat tahun. Hal ini timbul karena anak tidak memiliki hal-hal yang
dimiliki oleh teman sebayanya. Bisa terjadi juga karena setiap anak
menginginkan mendapat perhatian dan afeksi.
d. Rasa
ingin tahu
Rasa ingin tahu merupakan kondisi emosional yang baik
dari anak. Ada dorongan pada anak untuk mengeksplorasi dan belajar hal-hal yang
baru. Usia tiga tahun, anak mulai banyak bertanya dan mencapai puncaknya pada
usia sekitar 6 tahun. Untuk itu, usia 3-6 tahun disebut pula sebagai
Questioning Age.
2. Perkembangan Emosi Peserta Didik Usia Sekolah Dasar
Emosi memainkan peran yang sangat penting dalam
kehidupan seseorang, oleh sebab itu, perlu kiranya untuk mengetahui bagaimana
perkembangan dan dan pengaruh emosi terhadap penyesuaian pribadi dan sosial. Sulit
untuk mempelajari emosi anak-anak, karena informasi tentang aspek emosi yang
subjektif hanya dapat diperoleh dengan cara instropeksi, sedangkan anak-anak
tidak dapat menggunakan cara tersebut dengan baik karena mereka masih
berusia sangat muda.
Menuruthurlock
(1998) pola-pola emosi yang belum terjadi pada masa anak-kanak adalah :
a. Takut
Sumber ketakutan pada masa
kanak-kanak adalah bahaya yang fantastik. Pada anak yang lebih tua, ketakutan
bersumber dari diri sendiri atau status, misalnya anak takut dicemooh atau
dipandang rendah oleh orang lain.
b. Malu
Malu adalah bentuk ketakutan
yang ditandai dengan penarikan diri dari hubungan dengan orang lain yang tidak
dikenal atau jarang berjumpa. Perasaan ini timbul karena adanya keraguan
tentang reaksi orang lain terhadap mereka., misalnya malu bila ditertawakan atau
diejek. Situasi yang mungkin menimbulkan rasa malu misalnya, kedatangan tamu di
rumah, sekolah baru, guru baru, dan sebagainya. Ekspresi malu pada anak usia
sekolah misalnya, muka merah, gugup, menolehkan wajah ke arah lain, dan
sebagainya.
c. Canggung
Rasa canggung timbul karena
perasaan ragu akan penilaian orang lain terhadap perilaku atau diri seseorang. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa canggung timbul karena keadaan khawatir yang
menyangkut kesadaran diri. Setelah anak mampu memahami tuntutan atau standar
tingkah laku yang ditetapkan lingkungan, biasanya akan muncul rasa canggung
apabila dirinya merasa tidak mampu memenuhi standar tersebut. Itulah sebabnya,
rasa canggung muncul pada anak mulai usia 5-6 th, di mana anak sudah memiliki
kemampuan menilai situasi sosial.
d. Khawatir
Rasa khawatir adalah bentuk
ketakutan terhadap sesuatu yang tidak nyata, seperti khayalan ketakutan atau
gelisah tanpa alasan. Perasaan ini muncul karena anak membayangkan kondisi
buruk yang akan terjadi. Sumber kekhawatiran anak adalah rumah, seklah dan
hubungan dengan teman sebayanya. Misalnya khawatir jika mendapat nilai jelek,
dan sebagainya.
e. Marah
Banyak kejadian yangyang dapat
mencetuskan perasaan marah. Ekspresi kemarahan ada 2, yaitu impulsif dan
ditekan. Reaksi impulsif disebut juga agresi dapat berupa serangan fisik atau
verbal. Sedangkan reaksi yang ditekan menunjukkan bahwa anak mengendalikan
kemarahannya. Contoh hal yang menyebabkan kemarahan pada anak adalah
dicemoohkan, dilalaikan, dan sebagainya.
f. Cemburu
Reaksi cemburu sangat beragam,
bergantung pada situasi. Secara umum, ada 2 reaksi yaitu langsung dan tidak
langsung. Reaksi langsung dapat berupa tindak agresi seperti menggigit, memukul
mencela, dll. Sedangkan reaksi tidak langsung misalnya, sedih.
g. Duka cita
Duka cita adalah trauma
psikis, suatu kesengsaraan emosionalyang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang
dicintai.
h. Keingintahuan
Rasa ingin tahu ditandai
dengan sikap positif terhadap hal-hal yang baru, kebutuhan untuk mengetahui
diri sendiri dan lingkungan, suka mengamat, serta tekun memeriksa sesuatu.
i.
Gembira
Gembira adalah emosi positif
atau emosi yang menyenangkan.
j.
Kasih sayang
Kasih sayang adalah reaksi
emosional berupa perhatian hangat terhadap seseorang, binatang atau benda.
3. Perkembangan Emosi Peserta Didik Usia Remaja (SMP/SMA)
Masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau
masa transisi antara masa anak ke masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami
perkembangan yang pesat mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosi. Pada masa
ini dipercaya merupakan masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi
keluarga dan lingkungannya. Perubahan-perubahan fisik yang dialami remaja juga
menyebabkan adanya perubahan psikologis. Hurlock (1973: 17) disebut sebagai
periode heightened emotionality,
yaitu suatu keadaan dimana kondisi emosi tampak lebih tinggi atau tampak lebih
intens dibandingkan dengan keadaan normal. Emosi yang tinggi dapat
termanifestasikan dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti bingung, emosi
berkobar-kobar atau mudah meledak, bertengkar, tak bergairah, pemalas,
membentuk mekanisme pertahanan diri. Emosi yang tinggi ini tidak berlangsung
terus-menerus selama masa remaja. Dengan bertambahnya umur maka emosi yang
tinggi akan mulai mereda atau menuju kondisi yang stabil.
Faktor-faktor yang mempengaruhi emosi pada usia remaja :
1.
Perubahan Fisik/Jasmani
Perubahan atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama masa
puber menyebabkan keadaan tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini
mempengaruhi kondisi prikis remaja. Tidak setiap remaja siap menerima perubahan
yang dialami, karena tidak semuanya menguntungkan. Terutama perubahan tersebut
mempengaruhi penampilannya. Hal ini menyebabkan rangsangan didalam tubuh remaja
yang sering kali menimbulkan masalah dalam perkembangan psikisnya, khususnya
perkembangan emosinya.
2. Perubahan dalam Hubungan dengan Orang Tua
Orang tua yang mendidik anaknya yang sedang beranjak dewasa
dengan cara apa yang dianggap baik oleh orang tua, misal cara yang otoriter,
penerapan disiplin yang terlalu kaku,
terlalu mengekang dapat menimbulkan ketegangan antara orang tua dan anak, yang
akan mempengaruhi perkembangan emosinya. Kemudian jika penerapan hukuman
dilakukan dengan cara yang tidak bijak dapat menyebabkan ketegangan yang lebih
berat sehingga dapat menimbulkan pemberontakan pula, karena pada dasarnya ada
kecenderungan remaja untuk melepas diri dari orang tua.
3. Perubahan Hubungan dengan Teman
Pada awal remaja biasanya mereka suka membentuk gang yang
biasanya pula memiliki tujuan yang positif untuk memenuhi minat bersama mereka,
namun jika diteruskan pada masa remaja tengah atau remaja akhir para anggota
mungkin membutuhkannya untuk melawan otoritas atau untuk melakukan yang tidak
baik. Yang paling sering mendatangkan masalah adalah hubungan percintaan antar
lawan jenis dikalangan remaja. Percintaan dikalangan remaja juga terkadang
manimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada kekhawatiran dari pihak orang
tua kalau terjadi hal-hal yang diluar batas sehingga mereka melarang anaknya
pacaran.
4. Perubahan dengan Hubungan Sekolah
Menginjak remaja mungkin mereka mulai menyadari betapa
pentingnya pendidikan untuk kehidupan dimasa mendatang. Hal ini sedikit banyak
dapat menyebabkan kecemasan sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan
apa yang akan mereka lakukan setelah lulus.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, kiranya
masih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja atau
peserta didik. Namun dari yang telah diuraikan diatas rasanya telah cukup
banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan isi makalah yang telah diuraikan, maka
dapat diambil kesimpulan mengenai perkembangan emosi yang dominan terjadi pada
peserta didik usia remaja. Faktor-faktor yang mempengaruhi hal demikian adalah
karena faktor perubahan fisik, perubahan hubungan dengan orang tua, perubahan
hubungan dengan teman, perubahan hubungan dengan sekolah, dan sebenarnya masih
banyak perubahan lain yang mempengaruhi perkembangan emosi peserta didik.
Namun, beberapa faktor yang sudah diuraikan rasanya telah cukup banyak faktor
yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja.
Pembahasan isi masalah makalah juga dapat menyimpulkan
kesimpulan mengenai emosi. Kepribadian memberi kecenderungan kepada orang untuk
mengalami suasana hati dan emosi tertentu, contohnya beberapa orang merasa
bersalah dan merasakan kemarahan dengan lebih mudah dibandingkan orang lain,
sedangkan orang lain mungkin merasa tenang dan rileks dalam situasi apa pun.
Intinya, beberapa orang memiliki kecenderungan untuk memiliki emosi apa pun
secara lebih intens atau memiliki intensitas afek (perbedaan individual dalam
kekuatan di mana individu-individu mengalami emosi mereka) tinggi.
